Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2015

oleh : Nur Indah W
Lahir di Bogor, 21 November 1968, Justina Ayu Utami atau yang lebih dikenal sebagai Ayu Utami merupakan novelis yang identik dengan tema seksualitas. Melalui novel pertamanya, Saman, ia merayakan kebebasan tubuh. Sebenarnya, ada beberapa tawaran untuk membongkar penindasan atas nama jenis kelamin namun Ayu Utami memilih tema seksual sebagai fokus. Pemilihan ini bukan tanpa alasan. Hal ini berdasarkan argumen bahwa seksualitas masih dianggap sangat tabu sehingga tidak banyak yang mau mendiskusikannya dalam forum-forum publik. Lebih dari itu, banyak mitos seksualitas yang mengukuhkan dominasi laki-laki.

Oktober 2014, Ayu Utami menerbitkan karya terbaru berjudul Simple Miracles. Namun, sebelum membahas karya terbaru pendiri Aliansi Jurnalis Independen, tidak salah jika kita menengok kembali beberapa karya sebelumnya. Karya pertamanya berupa dwilogi berjudul Saman dan Larung. Kedua judul ini diambil dari salah tokoh dalam masing-masing karya. Saman merupakan sosok lelaki yang diburu oleh rezim militer. Ia dapat melarikan diri ke New York setelah mendapatkan bantuan dari empat sahabat perempuannya. Sedangkan Larung menjadi sosok misterius yang menemani saman dalam usaha membebaskan beberapa aktivis demokrasi yang juga diincar oleh aparat orde baru. Berlatar akhir 1990-an novel Saman dan Larung berhasil mengantarkan Ayu Utami sebagai penerima penghargaan Internasional Prince Claus Award 2000.

Goresan tinta terus berlanjut. Karya selanjutnya berupa trilogi mengenai arti cinta, kemerdekaan, serta hubungan lelaki-perempuan. Dibuka dengan novel Si Parasit Lajang berisi cercahan pikiran keseharian A. Perempuan yang memutuskan untuk tidak menikah. Cerita berlanjut pada novel Cerita Cinta Enrico, berkisah tentang enrico, seorang lelaki yang tak mau menikah karena tak mau kehilangan kemerdekaan. Ia lahir tepat di hari pemberontakan terbesar pertama dalam sejarah Indonesia dan menjadi bayi gerilya PRRI. Pemberontakan pribadinya berkelindan dengan peristiwa-peristiwa politik. Kedua tokoh ini bertemu dalam Pengakuan Eks Parasit Lajang. Trilogi ini berlatar politik Indonesia dari era Sukarno, Soeharto hingga reformasi.

Produktivitas Ayu Utami memang patut mendapat empat jempol. Selain dari karya di atas, masih ada beberapa novel lagi yang lahir dari tangan dingin salah satu pendiri Komunitas Utan Kayu ini. Sebut saja novel Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa (Candi Jawa Timur), Lalita (Candi Borobudur), Maya (Candi Prambanan) serta beberapa lainnya. Dua halaman rasanya tidak akan cukup untuk mengupasnya satu per satu.

Saat ini, Simple Miracles, dengan tawaran tema yang tidak biasa agaknya menarik untuk ditelisik lebih lanjut. Ia menjadi karya terbaru yang terbit di tengah pesta demokrasi 2014. Buku pertama dari seri spiritualisme kritis karya Ayu Utami ini dipersembahkan untuk memperingati 100 hari kematian ibunya. Ia bercerita tentang keajaiban-keajaiban sederhana terkait dengan doa, kematian, dan arwah, serta bagaimana nalar mencoba untuk mencernanya. Proses penalaran diawali dengan beroposisi. Kepercayaan dan peraguan. Iman dan skeptisisme. Dimana umumnya manusia cenderung untuk lebih dahulu percaya atau lebih dahulu tidak percaya sesuatu, baru kemudian ditambahkan alasan.

Mekanisme iman terjadi jika kita percaya meskipun apa yang kita percaya itu tidak kelihatan, tidak bisa dibuktikan tidak juga dapat diprediksi. Berdasarkan argumen ini, Ayu Utami menyerupakan tuhan dengan hantu. Adapun mekanisme skeptis terjadi saat kita menuntut bukti dan ketetapan dari makna yang ditawarkan. Sesuatu hanya dapat dipercaya jika ada bukti material dan obyektif. Contoh: Kita hanya boleh percaya pada penampakan kalau kita bisa melihatnya. Namun tidak cukup satu orang yang melihat, karena bisa jadi itu halusinasi. Penampakan itu harus dapat dilihat beramai-ramai. Atau jika sesuatu bisa diprediksi berdasarkan hukum keteraturan. Contoh: Kepercayaan manusia akan siang dan malam, sebab kita bisa menemukan hukum keteraturan di dalamnya.

Sebenarnya spiritualisme kritis bukan istilah baru, Ayu Utami pernah sedikit menyinggungnya melalui tokoh Parang Jati dalam Bilangan Fu. Namun baru dalam Simple Miracles, Ia mulai benar-benar fokus pada penalaran akan dunia spirit. Ia memaknai spiritualisme kritis sebagai sikap terbuka pada yang spiritual tanpa menghianati nalar kritis.

Ayu Utami menyadari, membuka diri pada dunia spirit dan arwah bukan tanpa resiko. Kemungkinan diombang-ambingkan dan dimanipulasi senantiasa menghantui, sebab seseorang akan berhadapan dengan yang tidak bisa diverifikasi. Oleh karenanya, tidak heran jika sebagaian orang memilih menutup diri. Padahal, menutup diri akan memutus kita dari sumber-sumber tak terduga maupun kreativitas.

Untuk bisa bersikap terbuka sambil mengurangi resiko diperdaya, Ayu Utami menawarkan ramuan sederhana. Ramuan tersebut berisi beberapa pertanyaan kritis. Ia mencontohkan tiga pertanyaan. Pertama, apa reputasi si penyampai informasi atau si medium? Apakah orang atau benda itu punya pola yang bisa dipercaya?

Kedua, apakah konsistensi logis atau kecocokan informasi gaib itu dengan fakta dan data lain? Kalau tidak ada, informasi tersebut dapat langsung dibuang. Kalau pun tampak konsisten, suatu informasi belum tentu benar. Bisa saja hasil dari rekayasa ataupun persekongkolan. Artinya disini kebenaran faktual memang sangat sulit dicapai. Maka, kita diantar pada suatu sikap yang lain. Yaitu pencarian makna ini biasanya tidak bisa diturunkan menjadi dalil-dalil untuk menghakimi.

Pertanyaan bantu ketiga, adakah pihak yang menangguk keuntungan dari suatu informasi gaib? Keuntungan bisa berupa materi maupun sekedar pemenuhan hasrat. Misalnya, hasrat untuk diakui. Selidiki saja seberapa jauh kepentingan orang lain atau kita sendiri memanipulasi informasi spiritual itu. Perlu diingat, ketiga pertanyaan ini hanyalah sebagai alat bantu dalam menemukan pemahaman atas sesuatu yang bersifat gaib. Ketiganya bukanlah standar baku. Kita bisa menambahkan pertanyaan lain yang sekiranya dapat memperkuat ataupun merobohkan bangunan kepercayaan yang ada. Namun, hal yang tidak dapat dibuktikan secara materi bukan berarti salah, hanya saja tidak dapat digunanakan sebagai dasar untuk menghakimi yang lain.

Awalnya saya mengira setelah membawa tema baru, Ayu Utami akan meninggalkan tema ketubuhan. Namun ternyata tidak, saya menemukan penggambaran yang mirip teori psikoanalisis. Ia sedikit menyinggung tahapan oral pada bayi sebagai pertanda awal kepemilikan hasrat seksual pada manusia. Meskipun amat sedikit, namun kolaborasi antara seksualitas dan spiritualisme kritis pasti akan melahirkan komposisi yang unik. Sebagai pembuka, buku pertama seri spiritualisme kritis ini cukup mampu mengundang rasa penasaran, tentu para fans sudah tidak sabar membaca karya selanjutnya. Saya pun turut berdoa, semoga buku kedua segera hadir bersama setumpuk kejutan yang siap memanjakan pembaca. Amin.

*22 : 49, ditemani ibuk yang terkantuk-kantuk*
Posted by Unknown On 16.42 2 comments READ FULL POST

Rabu, 10 Desember 2014



Oleh : Jazilatur Rohmah

Istilah remaja adalah istilah yang tidak lagi asing di telinga kita. Status sebagai seorang remaja adalah fase mutlak dalam periode perkembangan individu. Lalu, pertanyaannya adalah siapakah remaja itu? Bagaimana masa remaja itu? Apa saja tugas remaja itu?

Remaja adalah masa dimana individu mengalami masa transisi dari anak-anak menjadi sosok yang dewasa. Masa ini sering disebutkan sebagai masa sensitif dalam perkembangan kepribadian maupun kognitif individu. Kita disebut sebagai seorang remaja ketika memasuki usia 12 tahun hingga mencapai usia 22 tahun. Dalam rentang usia inilah banyak perubahan yang kita jumpai dalam diri kita, baik secara fisik, kognitif maupun psikososial kita.

Ditinjau dari sisi usia, siapa sajakah penyandang status remaja itu? Jawabannya kita ketahui bersama yaitu pelajar dan mahasiswa sebagai salah satunya. Namun, sebagian besar orang salah persepsi menganggap statusnya sebagai mahasiswa adalah identitas kedewasaannya. Padahal ia masih dalam tahap remaja akhir yang melangkah menuju ke tahap dewasa itu.

Fase remaja menjadi sangat sensitif karena pada masa itu seseorang tidak lagi mau dianggap ataupun diperlakukan seperti anak-anak, namun ia belum juga memenuhi syarat disebut sebagai seorang yang dewasa. Dalam masa ini muncullah naluri pencarian identitas dirinya. Karenanya muncullah idiologi-idiologi yang mulai dipertahankan dalam prinsip hidupnya. 

Krisis identitas adalah bagian dari tugas yang harus diselesaikan oleh remaja dalam perkembangan kepribadiaanya. Karena setelah melewati fase ini ia akan menemukan sebuah komitmen yang akan mengantarnya menjadi dewasa. Namun,tidak semua remaja pernah mengalami krisis ini dalam perkembangannya dan tetap mampu menemukan komitmen atas pilihan-pilihan hidupnya. Dan tak jarang pula individu yang keluar dari masa krisisnya namun tak menemukan sebuah komtmen untuk hidupnya sehingga ia selalu berfigur pada dirinya sendiri saja.

Beralih dari pembahasan tentang psikologis remaja, saya ingin sedikit menyinggung tentang mahasiswa secara umum sebagai seorang remaja. Pada fase ini, beberapa mahasiswa menemui krisis dalam pencarian identitasnya. Mengutip dari komentar Andi Mahifal, ketika mengisi materi kemahasiswaan dalam OPAK 2014, “Mahasiswa sekarang itu, tidak totalitas dengan tipe tertentu. Ngakunya aktivis tapi masih takut nilai jelek, takut orang tua. Katanya akademis tapi tidak total memahami keilmuannya, katanya lagi hedon tapi takut dimarahi ketika IP-nya dibawah rata-rata. Ya itu krisis identitas namanya.”  

Dinamika perjalanan hidup mahasiswa selalu diwarnai dengan beragam aktivitas akademik, diskusi misalanya. Dalam hal ini seringkali seorang mahasiswa merasa bahwa dirinya paling benar atas pendapat-pendapatnya. Hal ini adalah salah satu ciri seorang remaja yang berada dalam masa krisisnya. Ia belum mampu menerima nilai atau model dari orang lain disekitarnya karena identity individuitas-nya masih tinggi. Banyak hal yang mempengaruhi hal ini, salah satunya tidak ada figur yang kuat yang ia temukan. Hal ini bisa jadi akibat dari masa sebelumya ia kurang mendapatkan intensitas kepercayaan terhadap lingkungannya. 

Seiring perkembangannya, individu akan melangkah memasuki tahap remaja akhir. Dalam masa ini, individu akan mencapai kematangan kognitifnya. Sisi kedewasaan dari seorang remaja mulai tampak. Dalam periode ini seorang remaja mulai keluar dari masa krisisnya dan mulai menemukan komitmen dan berfikir orientasi masa depannya. 

Mahasiswa di tahapan ini, mulai berkonsentrasi dengan rancangan prioritas masa depannya. Ia mulai membangun jaringan kerja dengan rekan sekitarnya. Namun, ada beberapa yang belum mampu mencapai kondisi ideal di tahapan ini, ia menjadi sosok yang antisosial misalnya. Hal ini merupakan akibat dari kegagalannya keluar dari masa krisis dan mengenal identitas dirinya. Sikap antisosial pada mahasiswa menunjukkan bahwa ia belum mampu menghayati peran dan tugas mahasiswa sebagai agen of change, dan agen of control. Untuk meminimalisir hal ini, bergabung dalam suatu komunitas atau organisasi akan banyak membantu.

Sebaliknya, tak jarang kita jumpai jenis mahasiswa yang selalu menggembor-gemborkan aktivitasnya diluar kampus. Bahkan tak jarang ia meninggalkan tugas akademiknya dan ironisnya menganggap perkuliahan adalah hal yang tidak penting. Jenis ini, bisa jadi dia telah keluar dari masa krisinya namun belum menemukan sebuah komitmen. Sehingga ia masih saja sibuk dengan dunia yang ia bangun, namun juga setengah memikirkan ketuntasannya sebagai mahasiswa, karena ia pun tidak punya keberanian untuk melepas penuh statusnya sebagai mahasiswa. Alhasil, dua identitas yang dimilikinya tidak dapat berjalan seimbang dan totalitas.  

Dengan mengenali tugas dan tantangan yang akan kita jumpai dalam perjalanan menuju kedewasaan, kita harusnya mampu membuat skema untuk meminimalisir dampak dari gagalnya keluar dari krisis identitas. Tidak ada yang mampu menjadi pribadi yang sempurna, namun tidak mustahil kita menjadi pribadi yang ideal. Hidup mahasiswa!
Posted by Unknown On 22.23 No comments READ FULL POST

Rabu, 03 Desember 2014

Oleh : Arif Riza Azizi

Dalam sejarah peradaban umat manusia, kemajuan suatu bangsa tidak hanya bisa dibangun dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah maupun pengelolaan tata negara yang mapan, melainkan berawal dari peradaban buku atau penguasaan literasi yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun yang terjadi, pentingnya budaya literasi kurang diperhatikan sebagai kegiatan yang penting oleh masyarakat kita maupun pemerintah. Pemerintah disini, dimaksudkan sebagai pihak yang harusnya bisa memacu masyarakat untuk giat dalam kegiatan literasi, atau pihak pemerintah bisa menyelipkan-untuk tidak berkata menerapkan seutuhnya-kegiatan literasi di lingkungan pendidikan formal.

Secara sederhana, literasia atau literer istilah lain dari melek huruf secara fungsional adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berhitung, dan berbicara serta kemampuan mengidentifikasi, mengurai dan memahami suatu masalah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga terbitan Balai Pustaka, yang dimaksudkan dengan literer adalah (sesuatu yang) berhubungan dengan tulis-menulis. Dalam konteks kekinian, literasi atau literer memiliki definisi dan makna yang sangat luas. Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar.

Dalam paradigma berpikir modern, literasi juga bisa diartikan sebagai kemampuan nalar manusia untuk mengartikulasikan segala fenomena sosial dengan huruf dan tulisan. Bahkan menurut Kirsch dan Jungeblut (1993) dalam bukunya Literacy: Profiles of America’s Young Adults, literasi kontemporer merupakan kemampuan seseorang dalam memanfaatkan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat luas.

Di sisi lain, Besnier (dikutip dalam Duranti, 2001) dalam Key Concepts in Language and Culture, literasi adalah komunikasi melalui inskripsi yang terbaca secara visual, bukan melalui saluran pendengaran dan isyarat. Inskripsi visual di sini termasuk di dalamnya adalah bahasa tulisan yang dimediasi dengan alphabet atau aksara.

Menurut hemat penulis, kegiatan literasi dapat diartikan sebagai kegiatan membaca, membaca hal yang tekstual dan kontekstual, lalu menuliskannya sebagai sebuah kegiatan pendokumentasian. Jadi, dua aspek penting literasi adalah membaca dan menulis. Orang yang banyak menulis adalah mereka yang juga banyak membaca. Karena keduanya sangat berkaitan erat satu sama lain. Kita bisa mengaca pada apa yang dilakukan oleh pendahulu kita. Perlu diketahui, sosok Soekarno, Hatta, Tan Malaka, mereka rajin menulis dan membaca. Tulisan mereka menjadi sebuah dokumentasi dari perjalanan sejarah Indonesia, meski disisi lain ada maksud dari mereka untuk mendokumentasikan perjalanan sejarah keindividuaannya. Itulah cara mereka mengabadikan kisahnya menjadi monument sejarah yang terus bisa dikenang oleh kita.

Jika kita amati sekarang, pendidikan kita mandeg perkembangannya, khususnya dalam hal kesadaran pelajar akan pentingnya membaca. Pelajar kita seringnya membaca untuk mendapat nilai. Mereka belum menyadari arti penting membaca, yakni membaca itu sendiri. Pendidikan di Indonesia adalah pendidikan pembelajaran, bukan pendidikan berliterasi. Disini tidak ada tuntutan bahwasanya, pendidikan diarahkan kepada pendidikan literasi. Tapi, disini pendidikan literasi bisa menjadi alternatif yang bisa memecah kebekuan pelajar kita yang semangat membacanya masih minim.

 Literasi juga harus disadari bukan saja kegiatan yang tercakup dalam dunia pendidikan formal. Siapapun kita? Dimanapun kita berada? Tua-muda, besar-kecil,anak-anak atau dewasa, siapapun kita bisa melaksanakan kegiatan literasi. Dan kita harus menyadari pentingnya berliterasi, itulah yang perlu ditekankan. Literasi harus kita giatkan sebagai elemen penting pengisi rutinitas sehari-hari. Kita harus bisa “Mengejawantahkan Semangat Literasi Pemuda sebagai Rutinitas Sehari-hari”, secara berkelanjutan. Memang selalu sulit untuk melaksanakannya, tapi, kesulitan itu akan terurai dengan kesungguhan dan pembiasaan yang terus menerus. Mari Berliterasi!


Posted by Unknown On 17.41 No comments READ FULL POST

Minggu, 21 April 2013


perempuanmu, bukanlah perempuan yang haus akan eksistensi dan pengakuan kesetaraan diatas lelaki.
perempuanmu, masih sama.
perempuan yang masih menjunjung tinggi kodrat akan keperempuanannya.
hanya saja, kau mungkin seringkali lupa
perempuanmu ini kau anggap budak dari nafsu birahi, kau anggap antek-antek pengepul dapur.
padahal dari rahimnya tempatmu lahir.
perempuanmu, bukanlah perempuan yang suka menyungging bedak tebal perona pipi, bukan pula yang suka berlenggak lenggok bertelanjang dada
perempuanmu ini lebih suka kau ajak berlari, dan menyulutkan terang dalam kegelapan. yang orang sering menamainya pendidikan. setara

***

21 April adalah harinya perempuan, kenapa? karena di tanggal ini kita para perempuan akan diingatkan pada perjuangan seorang perempuan hebat penyusung buku Habis Gelap Terbitlah Terang, siapa lagi kalau bukan R.A Kartini. berkat jasa-jasa perjuangannya lah para perempuan negri ini bisa mengeyam manisnya bangku pendidikan. keinginan R.A Kartini untuk menjadikan peran wanita setara dengan laki-laki tidak lain bukan karena para perempuan itu ingin sama kesetaraannya "lebih" diatas laki-laki. lebih dari itu Kartini hanya ingin menuntut hak yang sama atas perempuan, agar perempuan pada zaman itu keluar dari penderitaannya, tidak disepelekan oleh kaum laki-laki, agar perempuan juga bisa lepas dari “ketidakbebasan” yang mengurungnya. Sesungguhnya kebebasan yang Kartini perjuangan adalah kebebasan agar perempuan bebas menuntut ilmu dan belajar, serta dihormati hak-haknya. bukan bebas dalam artian lain.


Mungkin kalian sering mendengar cerita ini beribu-ribu kali sewaktu masih duduk di sekolah dasar, bawasanya terlalu cintanya R.A Kartini pada dunia pendidikan perempuan, ia mengumpulkan beberapa teman, kerabat, tentangga seperempuanannya untuk berlajar baca tulis yang sempat ia pelajari saat masih sekolah di ELS (Europese Lagere School). namun kecintaannya tak berhenti disitu, selain mengajar beliau ingin melanjutkan wawasannya dalam dunia baca tulis. lewat perantara surat yang beliau kirimkan ke Mr.J.H Abendanon, yang mana berisikan permohonan beasiswa study di belanda. beliau ingin menjadi wanita yang berwawasan dan berintelektual diatas tradisi dan tekanan pada masa itu. Namun belum sempat ia mengecup manis permohonan besarnya yang terkabul itu, di usia 24 tahun kartini di tuntut untuk menikah dengan salah seorang Adipati Rembang. bernama K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.  Namun nyatanya, hal tersebut tidak sama sekali mematahkan kegigihan dan kecintaannya pada pendidikan khususnya perempuan. dari kebebasan yang diberikan oleh suaminya pasca menikah R.A Kartini mendirikan sebuah sekolah khusus wanita di area kantor bupati tempat suaminya bekerja. Ya dia tidak membuang mimpinya untuk hal yang sia-sia.



Bahkan, berkat tulisan-tulisannya dengan beberapa temannya semasa bersekolah yang kemudian kembali ke Belanda, terbitlah sebuah buku Door Duisternis Tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya) yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Di Belanda sendiri Kartini cukup terkenal sebagai pejuang hak-hak perempuan. Bahkan 4 kota di Belanda, termasuk Amsterdam menggunakan namanya sebagai nama jalan. Kita seharusnya bangga akan hal tersebut. 



siapkah kita menjadi R.A Kartini selanjutnya? namun menjadi kartini ,bukan berarti dengan memakai kebaya ke sekolah, ke kampus, atau ke kantor. Tapi dengan memperjuangkan hak-hak perempuan. namun bukan berati hak-hak disini diartikan sebagai hak yang membuat seorang perempuan bersifat keras dan berani didepan laki-laki (suami), bukan perempuan yang menolak untuk mendengarkan nasihat-nasihat orang lain terutama lelaki. 



seorang perempuan juga harus paham bahwa perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Kualitas ibu menentukan juga kualitas anak dan mereka adalah generasi penerus bangsa ini. Ada ungkapan visioner generasi hari ini, menentukan nasib bangsanya di masa depan.  Sekarang masing-masing kepala dari kita mulai memaknai emansipasi perempuan itu. Dari kutipan salah satu surat Kartini :

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, BUKAN SEKALI-SEKALI KARENA KAMI MENGINGINKAN ANAK-ANAK PEREMPUAN ITU MENJADI SAINGAN LAKI-LAKI DALAM PERJUANGAN HIDUPNYA. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”  (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

Jelas perjuangan Kartini bukan untuk menyetarakan gender, justru karena paham akan peran dan tanggungjawabnya yang utama sebagai perempuan maka dibutuhkan kapasitas yang sesuai. Ibu sebagai pendidik pertama untuk anak-anaknya akan lebih berkualitas jika berpendidikan juga. Layaknya teko, ia dapat mengalirkan air yang segar jika diisi dengan air segar juga.


21 April 2013. 134 tahun sudah berlalu sejak hari pertama ia dilahirkan ke dunia. Berjuanglah untuk mencapai terang yang diinginkan, perempuan-perempuan Indonesia. Semoga kita bisa menjadi perempuan-perempuan yang bisa mendapatkan kebahagiaannya masing-masing dan tidak menjadi generasi yang cengeng yang dapat mempermalukan dirinya sendiri.
Penulis : Laily Nur
Posted by Unknown On 08.31 No comments READ FULL POST

Jumat, 22 Februari 2013


Nalar kritis mahasiswa pada dasarnya tak  pudar seiring bergonta-gantinya masa. Gagasan atau ide brilian juga masih mewarnai pemikiran-pemikiran mahasiswa. Kritik atas  kondisi sosial- masyarakat, keadaan bangsa, juga kondisi kampusnya  masih lazim di suarakan mahasiswa. Yang membedakan adalah gagasan, ide, kritik dan keluhan mahasiswa hari ini mereka sampaikan lewat jejaring sosial. Mereka rupakan dalam bentuk update status Facebook atau cerocosan di twitter.

Tak banyak lagi cerita mahasiswa yang menuliskan gagasan mereka lewat buku, membahasakan ide brilian mereka dalam sebuah karya ilmiah, dan hanya terhenti di jejaring sosial.

Budaya semacam ini seolah didukung juga oleh tak adanya penekanan dari sistem pendidikan perguruan tinggi (juga para dosen) untuk mengeksplorasi kemampuan literal mahasiswa. Mahasiswa hanya ditekankan pada penguasaan materi dengan acuan IPK. (PU).
Posted by Unknown On 06.02 READ FULL POST

Facebook

    Jumlah Pengunjung

    Text